Manusia Modern Mendamba Allah


Konsep manusia modern adalah konsep sentral bagi setiap disiplin ilmu sosial kemanusiaan yang menjadikan manusia sebagai obyek formal dan meterialnya. Agar memahami manusia sesuai dengan kodratnya semestinya kita mengabdi kepada Sang Maha Pencipta yaitu Allah Subhanahu Wata'ala, caranya dengan mengamalkan wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam melalui kitab suci Al Qur'an.

Gambaran manusia menurut Al Qur'an adalah sebagai berikut :

  • Menggunakan kata yang terdiuri dari huruf alif, nun dan sin, semacam kata insan, ins, nas atau unas.

  • Menggunakan kata basyar.

  • Menggunakan kata Bani Adam, atau Zuriyat Adam.

Kata basyar terambil dari kata yang pada mulanya berarti “menampakkan sesuatu dengan baik dan indah”, dari kata yang sama lahir kata basyarah yag berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena memiliki kulit yang jelas, dan berbeda dengan kulit binatang yang lain. Proses kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahap-tahap sehingga mencapai tahap kedewasaan. Sebagaimana dijelaskan dalam firmannya :

“Dan diantara tanda-tanda kekuaaan-Nya, Allah menciptakan kamu dari tanah, dan ketika kamu menjadi basyar kamu bertebaran” (Q.S. Ar Rum ayat 20).

Kata insan terambil dari kata uns yang berarti jinak, dan tampak. Kata insan digunakan Al Quran untuk menunjukkan kepada manusia dengan segala totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang unik, yang berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan fisik, mental dan kecerdasan.

Adalah benar bahwa manusia bukanlah suatu entitas yang homogen tetapi kebalikannya yaitu heterogen. Berdasarkan Al Quran manusia memiliki potensi –potensi yang meliputi :

  1. Manusia mempunyai raga dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Dengan bentuk yang paling baik itu diharapkan menjadi bersyukur kepada Allah (QS. An Nahl: 78).

  2. Manusia itu sebaik-baiknya dari segi fitrah. Dia tidak mewariskan dosa dari asal-usulnya. Ciri utama fitrah adalah menerima Allah sebagai Tuhan.

  3. Ruh. Al Quran secara tegas menyatakan bahwa kehidupan manusia bergantung pada wujud ruh dan wujud badan.

  4. Kebebasan, kemauan atau kebebasan kehendak, yaitu kebebasan untuk memilih tingkah laku sendiri kebaikan atau keburukan.

  5. Akal. Akal dalam pengertian Islam, bukan otak tetapi daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Akal dalam Islam mempunyai ijatan pada tiga unsur yakni pikiran, perasaan dan kemauan (cipta, rasa dan karsa).

  6. Nafs. Nafs atau nafsu seringkali dikaitkan dengan gejolak atau dorongan yang terdapat dalam diri manusia. Apabila dorongan itu berkuasa dan manusia tidak mengendalikannya, maka manusia akan tersesat. Kesesatan tersebut karena manusia yang dikuasai nafsunya itu tidak menggunakan hati dan indera (mata dan telinga yang dimilikinya). (QS. 7:178-179).

Kesempurnaan (al kamal) merupakan sebuah karakter (yaitu suatu kualitas positif) yang berada dalam wilayah eksistensi, namun apabila kita ingin membandingkan antara sesuatu yang merupakan suatu eksistensi dengan obyek selainnya. Namun pada saat yang sama, ia tidak dianggap sebagai kesempurnaan apa bila dibandingkan lagi dengan kelompok lainnya (dalam kelompok ke dua). Lebih jauh, ia mungkin dianggap sebagai kekurangan atau bahkan sesuatu yang mengurangi nilai keberadaan (wujudiyah) atas eksistensi yang disandangnya. Contohnya, rasa manis dianggap sebagai kesempurnaan bagi sebagian buah seperti anggur dan semangka, namun pada saat yang sama kesempurnaan buah asam justru terletak pada rasa asamnya.

Jika kita amati berbagai motif yang ada dalam jiwa dan kecenderungan-kecenderungannya kita akan menemukan bahwa kebanyakan motif utama tersebut adalah keinginan meraih kesempurnaan. Kita tidak akan menemukan seorangpun yang menyukai kekurangan pada dirinya. Manusia senantiasa berusaha sekeras mungkin untuk menghilangkan berbagai cela dan cacat dirinya samapi ia mendapat kesempurnaan yang diinginkan. Sebelum menghilangkan segala kekurangannya itu ia berusaha sedapat mungkin untuk menutupinya dari pandangan orang lain.

Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa ingin sempurna merupakan faktor yang kuat di dalam jiwa setiap manusia. Akan tetapi, biasanya factor ini terefleksikan dalam sikap nyata yang dapat menarik perhatian. Kalau saja direnungkan sejenak, kita akan dapat mengetahui bahwa sesungguhnya dasar dan sumber berbagai sikap lahiriah itu adalah cinta kepada kesempurnaan.

Akal sebagai kesempurnaan Manusia

Sesungguhnya proses kesempurnaan dan kesempurnaan pada tumbuhan itu bersifat niscaya dan terpaksa karena tunduk dan terpenuhinya faktor dan kondisi luar diri mereka. Sebuah pohon tidak tumbuh dengan kehendaknya sendiri, ia tidak menghasilkan buah-buahan sesuai kehendaknya, karena tumbuhan tidak memiliki perasaan dan kehendak. Berbeda dengan binatang; ia memiliki kehendak dan ikhtiar itu timbul dari nalurinya semata, dimana proses dan aktivitasnya terbatas hanya pada terpenuhi kebutuhan-kebutuhan alamiah dan atas dasar perasaan yang sempit dan terbatas pada kadar indra hewaninya saja.

Adapun manusia, disamping memiliki segala kelebihan yang dimiliki tumbuhan dan hewan, iapun memiliki dua keistimewaan lainnya yang bersifat ruhani. Dari satu sisi, keinginan fitrahnya tidak dibatasi oleh kebutuhan-kebutuhan alami dan material, dan dari sisi lain ia memiliki akal yang dapat memperluas pengetahuannya sampai pada dimensi-dimensi yang tak terbatas.

Sebagaimana kesempurnaan yang dimiliki oleh tumbuhan itu bisa berkembang dengan perantara potensinya yang khas, juga kesempurnaan yang dimiliki oleh binatang itu dapat dicapai dengan kehendaknya yang muncul dari naluri dan pengetahuannya yang bersifat inderawi, demikian pula dengan manusia. Kesempurnaan khas manusia pada hakikatnya terletak pada ruh yang dapat dicapai melalui kehendaknya dan arahan-arahan akalnya yang sehatm yaitu akal yang telah mengenal berbagai tujuan dan pandangan yang benar. Ketika ia dihadapkan pada berbagai pilihan, akalnya akan memilih sesuatu yang lebih utama dan lebih penting.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa perbuatan manusia itu sebenarnya dibentuk oleh kehendak yang muncul dari kecenderungan-kecenderungan dan keinginan-keinginan yang hanya dimiliki oleh manusia dan atas dasar pengarahan akal. Adapun perbuatan yang dilakukan karena motif hewani semata-mata adalah perbuatan yang tentunya, bersifat hewani pula, sebagaimana gerak yang timbul dari kekuatan mekanik dalam tubuh manusia semata-mata merupakan gerak fisis saja.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa suatu hari Siti Aisyah, istri Nabi SAW ditanya Sahabat, “Saya ingin sekali meniru kehidupan Rosulullah Muhammad, bukankah disebutkan bahwa Muhammad itu uswatun hasanah, contoh yang baik. Nah kalau saya ingin contoh yang baik, ringkas dari ahlak Rosulullah itu seperti apa?” Jawab Siti Aisyah, “Akhlaquhu AlQuran.” Akhlak Nabi itu adalah Al Quran. Kalam Ilahi atau atau kurukulum Ilahi yang tercantum dalam Al Quran itulah yang harus diserap bila seseorang ingin mencontoh Nabi.

Untuk mencapai derajat Manusia Sempurna itu diperlukan sebuah perjuangan. Dalam tasawuf dikenal istilah salik. Salik merupakan orang yang selalu berjuang menuju Allah. Untuk mencapai Allah diperlukan sebuah pengembaraan dan perjuangan yang berat dan terus menerus.

Manusia sempurna dalam pandangan tasawuf tradisional adalah manusia yang mampu menangkap sifat-sifat, kehebatan-kehebatan Allah dan kemudian tercermin atau teraktualisasikan dalam kehidupannya. Dalam proses pencapaian manusia sempurna itu ada beberapa tahap :

  1. tahalli
    yakni pengosongan diri manusia dari sifat-sifat, kotoran-kotoran yang memungkinkan hadirnya Tuhan dalam diri. Pengosongan itu adalah dalam rangka membuka pintu kehadiran Tuhan. Salah satu bentuk pengosongan adalah puasa. Dalam syahadat ada ungkapan La Ilaha, (jangan sampai kita mengangkat obyek-obyek selain Tuhan). Ini juga salah satu bentuk pengosongan.

  2. takhalli
    Ucapan Illa Allah, dalam syahadat merupakan bentuk dari takhalli. Dalam proses ini Allah diundang hadir. Yang diundang hadir adalah sifat-sifatnya. Kalau sifat-sifat itu sudah hadir, maka kemudian diri kita disifati dengan sifat-sifat Allah. Dalam hadits disebutkan, takhalaku bi akhlaqillah (berakhlaklah Engkau dengan akhlak Tuhan).

  3. tajali
    yakni penampakkan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Insan kamil atau manusia sempurna adalah orang yang telah melewati ke tiga tahap itu.

Sumber : Dr. Komaruddin Hidayat, dalam bukunya yang berjudul : Manusia Modern Mendamba Allah".

0 Response to "Manusia Modern Mendamba Allah"