Silaturahim atau Silaturahmi
Silaturahmi atau silaturahim merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shaleh ini. Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi seharusnya menambah semangat kaum muslimin didalam bersilaturahmi karena hal ini juga merupakan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseorang.
Halal bihalal pada zaman Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم, dan juga zaman-zaman sesudahnya tidak ditemukan. Hingga abad sekarang ini, baik di negara-negara Arab maupun di negara Islam lainnya (kecuali di Indonesia) tradisi ini tidak memasyarakat atau tidak ditemukan. Sedangkan di Indonesia, tradisi ini baru mulai diselenggarakan dalam bentuk upacara sekitar akhir tahun 1940-an dan mulai berkembang luas setelah tahun 1950-an. (Ensiklopedi Islam, 2000) Ensiklopedi Indonesia, 1978, menyebutkan halal bi halal berasal dari bahasa (lafadz) Arab yang tidak berdasarkan tata bahasa Arab (ilmu nahwu), sebagai pengganti istilah silaturahmi yang berasal dari kalangan yang tidak mengerti bahasa Arab, tetapi tetap mencintai Islam.
Silaturahmi tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang. Tentang hal ini Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR. Bukhari).
Halal bi halal diselenggarakan hampir oleh seluruh lapisan masyarakat muslim di Indonesia, baik oleh kelompok dari suatu daerah tertentu, keluarga besar, kelompok kerja, kelompok pedagang, organisasi sosial-politik lembaga perusahaan swasta maupun intansi pemerintah. Dengan demikian tergabung dalam beberapa kelompok yang berbeda mengikuti kegiatan halal bi halal. Asal-usul tradisi halal bi halal, dari daerah mana, siapa yang memulai dan kapan kegiatan tersebut mulai diselenggarakan sulit diketahui dengan pasti. Karena, tradisi “Sembah Sungkem” (datang menghadap untuk menyatakan hormat dan bakti kepada orang tua, orang yang lebih tua, atau orang yang lebih tinggi status sosialnya) sudah membudaya dan ada pada pada hampir semua suku dalam masyarakat Indonesia.
Untuk menghindari kesalah-pahaman terhadap makna, serta penggunaan kalimat halal bi halal, yang dalam tradisi di Indonesia, merupakan pengganti dari Silaturahmi, tampaknya tidak salah jika dilakukan telaah terhadap istilah tersebut, baik dari sisi arti kata, uslub bahasa, sejarah perkembangan makna, serta ilmu bahasa. Pada umumnya kelompok masyarakat yang mengadakan halal bi halal, mengartikan istilah halal bi halal itu dengan “Saling bebas membebaskan” atau “Saling maaf-memaafkan kesalahan dan dosa”. Jadi kata halal di sini, diartikan “Bebas” atau “Maaf”.
Dengan halal bihalal atau bersilaturrahmi, kita akan lebih bahagia. Hanya dengan mengirimi sms atau update status di facebook, orang yang kita sapa akan merasa bahagia. Terlebih lagi bila kita telepon atau kunjungi. Bayangkanlah roman muka sahabat Anda yang berbinar lantaran Anda menyempatkan mampir ke rumahnya. Juga, nada bahagia ibu Anda mendengar kabar cucunya lewat telepon. Kebahagiaan seperti itu mengurangi stress dan memperpanjang umur.
Perjumpaan positif antar manusia dapat menurunkan kadar hormon pemicu stress epinephrine, norepinephrine, dan cortisol dalam darah. Sebaliknya, hormon yang memperkuat rasa saling percaya dan ikatan emosi, oxytocin dan vasopressin, justru meningkat. Ilmuwan juga menduga bahwa silaturrahmi memicu dua neurotransmitter penting: dopamine, yang meningkatkan daya konsentrasi dan rasa bahagia, dan serotonin, yang mengurangi ketakutan dan kecemasan.
Pertukaran pikiran yang dilakukan melalui silaturrahmi juga seringkali menghasilkan kesimpulan-kesimpulan briliant yang tidak kita peroleh dengan berpikir sendiri. Don Tapscott dan Anthony William dalam Wikinomics dengan gamblang menjelaskan kekuatan dahsyat kolaborasi, melalui “silaturrahmi maya” yang memunculkan raksasa-raksasa baru seperti Facebook, Twitter, Blogger dan lainnya. Konsep dasar wikinomics adalah bahwa kolaborasi terbuka menghasilkan output yang lebih hebat dibandingkan bila membatasi diri dalam kelompok tertutup. Era online memang telah mengubah gaya saling bermaafan di hari Raya Idul Fitri Budaya saling berkunjung menciptakan kehangatan tersendiri. Ada kedekatan antar personal yang terjalin lewat situs jejaring social di internet ini, melalui media ini, kita tidak lagi bisa bertemu tatap muka sehingga kehilangan rasa simpati dan empati, fenomena ini menjadi salah satu keprihatinan di era globalisasi saat ini.
Dengan memperhatikan dan membandingkan antara Silaturahmi dan Halal bi halal, Silaturahmi lebih bermakna dari pada halal bi halal. Suatu kegiatan yang mengandung nilai baik, alangkah baiknya jika diberi nama yang baik pula. Oleh karena itu Tradisi berkumpul, bersalaman, saling memaafkan yang dilakukan sebagian orang di Indonesia setelah I’dul Fitri yang biasa disebut halal bi halal, lebih bermakna jika disebut silaturahim. Ada kesalahan yang sudah menjadi umum terhadap kata silaturahim, selama ini yang akrab dipakai adalah kata silaturahmi, Lantas, apa bedanya silaturahmi dengan silaturahim ? padahal susunan hurufnya sama saja. Ya, memang perbedaannnya ada pada akhiran yang ada pada huruf mim . Pertanyaan itu hanyalah kita yang bisa menjawabnya, dan jawaban tersebut akan menjadi lebih jelas manakala kita memulainya.
Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
Dan tentunya, telah kita ketahui melalui dalil-dalil di atas bahwa begitu banyak imbalan yang akan kita dapatkan sebagai balasan atas perjuangan kita untuk mengikat Ukhuwah Islamiyah. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa mendapatkan balasan kebaikan dari Allah سبحانه وتعالى karena telah menjaga hubungan persaudaraan di dalam Islam.
والله أعلم بالصواب





0 Response to "Silaturahim atau Silaturahmi"