Sikap Ramah yang Dirahmati Allah
Satu dari sekian banyak ni’mat Allah yang dianugerahkan kepada kita adalah ni’mat kasih sayang (Rohman dan Rohim) dengan berbagai macam bentuk dan perantaranya. Bentuk kasih sayang Allah itu bisa berupa kesenangan atau kesusahan, kegembiraan maupun kesedihan, yang kesemuanya itu tidak lain adalah semata-mata demi kebaikan kita agar kita semakin dekat dan beribadah kepada-Nya. Sedangkan sampainya kasih sayang Allah kepada kita bisa melalui siapa saja seperti bapak, ibu, kakak, adik, saudara, tetangga, guru dan lain sebagainya, atau melalui apa saja mahluk cipta'an Allah yang lain.
Dalam bahasa arab kasih sayang disebut dengan istilah Rohmah, yang sering kali kita menyebutnya Rohmat. Rasa kasih sayang merupakan salah satu kekayaan yang tersimpan dalam hati kita yang amat sangat berharga. Kalau boleh dianalogikan seandainya hati adalah rumah mewah berisi emas, perak, intan, permata, berlian atau lain sebagainya berupa materi keduniaan, maka sesungguhnya dalam hati terdapat terdapat iman, syukur, ikhlas, tawadhu’, iffah yang termasuk didalamnya Rohmat (kasih sayang).
Orang yang di dalam hatinya terdapat kekayaan berupa kasih sayang, maka ia akan termuliakan dengan kasih sayang nya itu, begitu pula sebaliknya ia akan terhinakan manakala dihatinya tidak terdapat kasih sayang.
Orang yang dalam hatinya dipenuhi kasih sayang dengan yang tidak, maka akan berbeda ketika dia mengasihi atau menyayangi orang lain. Perbedaan itu akan terletak pada ketulusan dalam memberikan kasih sayangya. Orang kaya yang punya uang satu juta semisal, ketika memberi seorang miskin seribu rupiah maka ia tidak berharap balasan yang sama atas pemberian yang diberikannya karena ia masih punya banyak sekali yakni sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah, artinya ketika kita mengasihi orang lain maka tidak terbersit sedikitpun bahwa orang yang kita kasihi akan membalas dengan kebaikan yang sama, karena dalam hati kita masih sangat banyak sekali kekayaan yang bernama rahmah itu.
Ada dua ciri seorang yang dihatinya benar-benar tersimpan kekayaan yang bernama rohmah (kasih sayang ) itu, ciri tersebut antara lain :
Penghinaan dan kebencian itu ibarat dua sisi mata uang, maka jangan sakit hati bila dihina orang, sesungguhnya yang berhak merasa sakit hati adalah orang yang yang menghina, sebab penghinaan itu akan kembali pada dirinya sendiri bila direspon dengan kasih sayang, dan akhirnya penghinaannya akan menjadi boomerang baginya. Dengan demikian orang yang dihina itu pantang membalas menghina orang yang menghinanya.
Orang yang memahami betul persoalan ini maka ketika ada yang menghina dirinya maka yang dilihat bukan penghinaannya, justru sebaliknya yaitu hikmah yang tersimpan dibalik hinaan tersebut. Suatu saat seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, tunjukkan aku amalan apa yang bisa memasukkanku ke dalam surga?”, Beliau menjawab: “Maafkanlah orang yang menganiayamu”. Bentuk penganiayaan adalah menghina, berarti bila kita memaafkan orang menganiaya kita sama artinya dengan memaafkan orang yang menghina kita.
Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik apabila kita memaafkan orang yang menghina kita. Antara lain:
Dalam bahasa arab kasih sayang disebut dengan istilah Rohmah, yang sering kali kita menyebutnya Rohmat. Rasa kasih sayang merupakan salah satu kekayaan yang tersimpan dalam hati kita yang amat sangat berharga. Kalau boleh dianalogikan seandainya hati adalah rumah mewah berisi emas, perak, intan, permata, berlian atau lain sebagainya berupa materi keduniaan, maka sesungguhnya dalam hati terdapat terdapat iman, syukur, ikhlas, tawadhu’, iffah yang termasuk didalamnya Rohmat (kasih sayang).
Orang yang di dalam hatinya terdapat kekayaan berupa kasih sayang, maka ia akan termuliakan dengan kasih sayang nya itu, begitu pula sebaliknya ia akan terhinakan manakala dihatinya tidak terdapat kasih sayang.
Orang yang dalam hatinya dipenuhi kasih sayang dengan yang tidak, maka akan berbeda ketika dia mengasihi atau menyayangi orang lain. Perbedaan itu akan terletak pada ketulusan dalam memberikan kasih sayangya. Orang kaya yang punya uang satu juta semisal, ketika memberi seorang miskin seribu rupiah maka ia tidak berharap balasan yang sama atas pemberian yang diberikannya karena ia masih punya banyak sekali yakni sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah, artinya ketika kita mengasihi orang lain maka tidak terbersit sedikitpun bahwa orang yang kita kasihi akan membalas dengan kebaikan yang sama, karena dalam hati kita masih sangat banyak sekali kekayaan yang bernama rahmah itu.
Ada dua ciri seorang yang dihatinya benar-benar tersimpan kekayaan yang bernama rohmah (kasih sayang ) itu, ciri tersebut antara lain :
- Kasih sayangnya tanpa ada pamrih, Orang yang di hatinya ada kekayaan kasih sayang, maka dia akan mencurahkan kasih sayangnya kepada orang lain dengan sepenuh hati. Ia lakukan bukan lantaran ingin di balas atau ingin disayangi orang tersebut, akan tetapi semata-mata ingin mendapat balasan dari Allah. Orang yang miskin kasih sayang, maka ketika mengasihi dan menyayangi orang lain, ia akan mengharapkan balasan yang serupa dari orang lain tersebut. Semisal orang yang dasarnya memang miskin uang, kemudian ia memberi uang kepada orang lain, maka apa yang muncul di hatinya ? meski dia memberi tetap saja di hatinya akan terbersit harapan bahwa suatu saat orang yang diberi akan balik memberinya ketika ia butuh. Sama halnya dengan orang yang menyumbang, ketika kebetulan dirumahnya ada hajatan, maka dia berharap akan disumbang. Kedua hal tersebut menunjukan bahwa mereka sama-sama miskinnya, karena masih berharap ingin dikasih dan diberi.
Orang yang kaya kasih sayang dia tidak berharap-harap meski sekecil apapun balasan dari kasih sayang yang diberikannya. Tidak pernah kecewa, menyesal, merasa rugi ataupun timbul kebencian, sekalipun orang yang ia kasihi dan ia sayangi tidak membalasnya, bahkan sekedar berterima kasihpun tidak. Bahkan dia merasa bahagia, bangga bisa mencurahkan kasih sayangnya dengan ikhlas tanpa pamrih kepada orang lain. Balasan yang ia harapkan adalah pahala dan ridho Allah سبحانه وتعالى. - Tahu siapa yang harus didahulukan dalam mencurahkan kasih sayangnya, Orang yang betul-betul kaya akan kasih sayang, maka dalam memberikan kasih sayangnya akan membuat skala prioritas siapa terlebih dahulu yang harus dikasihinya. Semisal ia punya banyak uang dan hidup dalam lingkungan yang kecil maka ketika ia akan memberikan sebagian uangnya, maka terlebih dahulu pada orang paling sangat membutuhkan. Demikian juga halnya dengan prioritas mencurahkan kasih sayang, yang jadi prioritas tentunya adalah yang sangat membutuhkan itu. Pertanyaan yang muncul adalah siapa sebetulnya yang perlu jadi prioritas dalam memberikan kasih sayang itu?, tentunya bukanlah mereka yang jompo, bukanlah mereka yang miskin atau yatim piatu. Yang paling sangat membutuhkan kasih sayang adalah orang yang dalam hatinya sedang miskin kasih sayang, yaitu mereka yang dalam hatinya terdapat kebencian terutama kebencian kepada kita. Kemudian sanggupkah kita menyayangi orang yang membenci kita? Jika kita tidak sanggup, berarti kita juga termasuk orang yang miskin kasih sayang. Orang yang miskin kasih sayang tidak akan mampu memberikan kasih sayangnya, maka yang ada hanyalah keinginan untuk saling menjatuhkan, menghina, bahagia bila orang lain sengsara dan selalu berharap bahwa selain dirinya itu menderita. Merekalah yang pertama kali perlu diberi kasih sayang, sehingga dia akan menjadi orang yang kaya kasih sayang.
Penghinaan dan kebencian itu ibarat dua sisi mata uang, maka jangan sakit hati bila dihina orang, sesungguhnya yang berhak merasa sakit hati adalah orang yang yang menghina, sebab penghinaan itu akan kembali pada dirinya sendiri bila direspon dengan kasih sayang, dan akhirnya penghinaannya akan menjadi boomerang baginya. Dengan demikian orang yang dihina itu pantang membalas menghina orang yang menghinanya.
Orang yang memahami betul persoalan ini maka ketika ada yang menghina dirinya maka yang dilihat bukan penghinaannya, justru sebaliknya yaitu hikmah yang tersimpan dibalik hinaan tersebut. Suatu saat seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, tunjukkan aku amalan apa yang bisa memasukkanku ke dalam surga?”, Beliau menjawab: “Maafkanlah orang yang menganiayamu”. Bentuk penganiayaan adalah menghina, berarti bila kita memaafkan orang menganiaya kita sama artinya dengan memaafkan orang yang menghina kita.
Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik apabila kita memaafkan orang yang menghina kita. Antara lain:
- Kita punya tabungan amal dari memaafkan kesalahan orang lain tersebut. Kapan kita akan memaafkan orang lain kalau tidak ada orang yang berbuat salah, tidak ada yang menghina, tidak ada yang mendzalimi kita. Padahal pekerjaan memaafkan merupakan suatu hal yang ringan sekali, tidak menuntut banyak tenaga, tidak perlu modal besar, tidak harus dengan waktu berhari-hari bahkan tidak perlu cucuran air mata dan simbahan darah. Jika kita katakan dalam beberapa detik saja perkataan maaf, rasanya ringan dan tidak memberatkan, itupun masih berbuntut dengan dicatat sebagai prestasi untuk menuju jalan kesurga Allah, namun demikian tidak berarti bahwa kita berharap orang lain berbuat salah kepada kita.
- Hinaan sebetulnya adalah control pemberitahu bobot harga diri kita, pernahkah kita melihat intan ? sebongkah batu bata bila dijatuhkan pada sebongkah intan yang kebetulan disampingnya ada tape. Apa yang terjadi? Maka hancurlah batu bata tadi, intan akan tetap utuh tetap berkilau tidak bergeming sedikitpun, tetap memancarkan pesona keindahannya, tetapi tidak demikian halnya dengan tape yang terkena bongkahan batu bata maka ia akan penyet, rusak, remuk bahkan tidak mungkin ada yang mau mengambil karena kotor kena pecahan bata. Begitulah rumusnya, bila hati kita kaya akan kasih sayang meskipun ada orang yang menghina kita, kita tidak bergeming, tidak merasa hancur-hancuran, kita tetap cemerlang dan tidak ada keinginan untuk membalas, sebagaimana sebongkah intan. Tetapi, sebaliknya apabila ada orang yang menghina kita, lalu kita membalas hinaannya berarti tak ubahnya kita seperti sebungkus tape. Kita tahu berapa harga tape dipasar? Hanya seribu rupiah, itupun masih dapat tiga bungkus lagi.
Jadi dengan hinaan ini kita tahu seberapa harga diri kita, artinya kalau ada orang yang menghina kita, sebenarnya dia sedang mengasihi kita, sebenarnya dia sedang memberitahukan kita yang sebenarnya, cuma mungkin pengungkapannya lain tidak selembut yang kita harapkan. - Sikap memaafkan adalah bentuk curahan kasih sayang. Tidak semua orang bisa mencurahkan kasih sayangnya dengan lembut, tetapi ada pula dengan cara yang lain seperti penghinaan. Kalau kita faham dengan orang yang menghina kita, maka belum tentu dia melakukan itu karena benci. Bisa jadi merupakan ungkapan kasih sayangnya kepada kita. Sudah seharusnya sikap kita kepada merekapun melimpahkan kasih sayang meski tidak dengan cara yang sama dengannya, yaitu kasih sayang yang sesungguhnya, sebagai rasa terima kasih kita kepada orang yang menyayangi kita.
Setiap perbuatan yang kita lakukan harus memiliki makna kasih sayang, ketika kita mencurahkan kasih sayang kepada siapapun meski orang kafir sekalipun, kita harus dapat membedakan antara mana perbuatannya dan mana orangnya. Terhadap orang kafir, maka bukan orangnya yang kita benci akan tetapi perbuatannya, karena besar harapan kita bahwa orang kafir tersebut akan mendapatkan hidayah dari Allah dan bisa kembali ke jalan yang benar.
Sesungguhnya masih banyak sekali yang bisa kita dapatkan dari makna kasih sayang ini, dan akhirnya orang yang hatinya dipenuhi kasih sayang akan senantiasa membantu orang-orang yang ingkar akan kebenaran Allah sehingga mereka bisa bertaubat dan memiliki sifat rohmah dan rohim. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang memiliki kasih sayang yang melimpah, sehingga kita bisa dipilih oleh Allah untuk bisa mengantarkan saudara-saudara kita menuju kepada cahaya Ilahi dan menambah keimanan kita kepada Allah سبحانه وتعالى.
Sesungguhnya masih banyak sekali yang bisa kita dapatkan dari makna kasih sayang ini, dan akhirnya orang yang hatinya dipenuhi kasih sayang akan senantiasa membantu orang-orang yang ingkar akan kebenaran Allah sehingga mereka bisa bertaubat dan memiliki sifat rohmah dan rohim. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang memiliki kasih sayang yang melimpah, sehingga kita bisa dipilih oleh Allah untuk bisa mengantarkan saudara-saudara kita menuju kepada cahaya Ilahi dan menambah keimanan kita kepada Allah سبحانه وتعالى.





0 Response to "Sikap Ramah yang Dirahmati Allah"