Sehelai Kain
Kain itu adalah tanda dari sebuah martabat. Dengan kain itu pula eksistensi moral suatu kaum akan bisa dinilai. Harga dari sehelai kain itu mungkin tidaklah seberapa, namun sehelai kain itu memiliki nilai kemuliaan yang tinggi dihadapan Sang Penguasa alam semesta. Jika kain itu dilalaikan, maka kerusakan moral akan menjalar kemana-mana. Dibalik sehelai kain itu terpendam hakikat ketakwaan. Sehelai kain itu juga menyiratkan hakikat kecantikan yang sebenarnya. Allah pun telah mewajibkan sehelai kain itu melalui ayat-ayat-Nya. Begitu mulianya sehelai kain itu, karena ia menjadi identitas dari seorang muslimah yang beriman dan bertakwa. Sehelai kain itu adalah jilbab syar’i yang menjadi gambaran dari tingginya sebuah nilai harga diri.
Tidak semua wanita sanggup mengenakan sehelai kain itu. Sehelai kain itu hanya bisa disandang oleh mereka yang keimanannya kuat dan sanggup menangkal berbagai cercaan yang acapkali datang tanpa diundang. Bagi mereka yang tiada sanggup menghadapi celaan, maka sehelai kain itu akan dicampakkan atau dimodifikasi sesuka hati. Sehelai kain itu merupakan tanda kesempurnaan sifat malu yang ada pada diri wanita. Ia menjadi perisai yang melindungi harga diri dari pelecehan. Sehingga apalah jadinya jika perisai itu dengan sengaja dibuang. Tentu pertahanan diri akan hilang. Sifat malu pun lenyap, pelecehan siap menyerang dari arah dan pada waktu yang tak terduga. Salahkan diri sendiri jika peristiwa pelecehan itu datang. Itu merupakan dampak karena dirinya meremehkan sehelai kain syar’i. Tidak ada yang bisa melindungi diri kecuali ia sendiri. Polisi tidak hadir disetiap tempat untuk mengawasi. Keadaan mencekam sewaktu-waktu bisa terjadi. Bagi seorang wanita, sehelai kain syar’I merupakan solusi, tak usah pikir panjang lagi.
Tidak semua wanita sanggup mengenakan sehelai kain itu. Sehelai kain itu hanya bisa disandang oleh mereka yang keimanannya kuat dan sanggup menangkal berbagai cercaan yang acapkali datang tanpa diundang. Bagi mereka yang tiada sanggup menghadapi celaan, maka sehelai kain itu akan dicampakkan atau dimodifikasi sesuka hati. Sehelai kain itu merupakan tanda kesempurnaan sifat malu yang ada pada diri wanita. Ia menjadi perisai yang melindungi harga diri dari pelecehan. Sehingga apalah jadinya jika perisai itu dengan sengaja dibuang. Tentu pertahanan diri akan hilang. Sifat malu pun lenyap, pelecehan siap menyerang dari arah dan pada waktu yang tak terduga. Salahkan diri sendiri jika peristiwa pelecehan itu datang. Itu merupakan dampak karena dirinya meremehkan sehelai kain syar’i. Tidak ada yang bisa melindungi diri kecuali ia sendiri. Polisi tidak hadir disetiap tempat untuk mengawasi. Keadaan mencekam sewaktu-waktu bisa terjadi. Bagi seorang wanita, sehelai kain syar’I merupakan solusi, tak usah pikir panjang lagi.
Kini kejahatan seksual menjadi santapan berita sehari-hari. Tiada berkurang, walaupun sudah tegak undang-undang pornografi dan pornoaksi. Solusi sesungguhnya adalah ada pada sehelai kain syar’i. Seandainya seluruh wanita memakai sehelai kain syar’I, maka kejahatan seksual tidak akan sebanyak saat ini, bahkan bisa jadi tidak akan ada sama sekali. Metode penyelesaian sudah tersedia didepan mata, namun entah mengapa tidak terpakai juga. Kasihan penjara, penuh sesak oleh kumpulan narapidana yang mudah tergiur kemolekan wanita.
Keadaan memang tidak akan berubah total dengan sehelai kain itu. Namun tidaklah kita amati peristiwa kehidupan dialam nyata. Pesona wanita dengan aurat terbuka telah merusak akhlak para pria. Pornografi, pelacuran, dan perselingkuhan kini menjadi barang dagangan yang banyak diminati para pembeli. Bisnis syahwat menjadi alternatif pekerjaan yang amat menggiurkan karena mampu mengundang banyak uang berdatangan. Tanpa pikir panjang, banyak wanita-wanita dengan kecerdasan dan skill pas-pasan, namun ingin banyak uang rela menggadaikan lekuk tubuhnya kepada para pelanggan. Produk syahwat dari para wanita penjual aurat, membuat moral bangsa semakin rusak berat. Aurat itu tidak ditutupi sehelai kain syar’i, dan kini menjadi sumber malapetaka yang mengundang turunnya laknat.
Terbukanya aurat dengan sengaja merupakan suatu bentuk invasi terhadap tabi’at syahwat. Gempuran bisikan setan siap menghancurkan benteng keimanan. Ibarat semburan gas alam yang terpercikkan api, maka seketika akan terbakar dan meledak. Sehelai kain itu dicampakkan, maka serangan eksternal terhadap nafsu diri semakin menjadi-jadi. Syahwat terus digoda. Tubuh tak terkendali dan pikiran sulit konsentrasi. Syahwat uncontrolled menyebabkan produktivitas menurun, waktu terbuang sia-sia, dan harta habis percuma. Apa dikata, hanya karena sehelai kain memang, namun kinerja menjadi terbengkalai dan hancur berantakan.
Aurat merupakan biang naiknya syahwat. Syahwat menjadi permasalahan besar di masa yang konon kabarnya semakin mendekati kiamat ini. Gejolak watak reproduksi ini menjangkiti setiap tingkatan strata sosial, mulai dari para dhu’afa hingga para pejabat kaya. Godaan dari wanita yang hobi mengumbar aurat telah memberi kesempatan emas untuk merusak produktivitas dan kreativitas kerja para lelaki. Kinerja yang berantakan tentu akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas produksi. Padahal, masalah yang semakin rumit membutuhkan kesungguhan dari setiap pekerja untuk mencurahkan seluruh potensi yang ada didalam diri. Pikiran harus terus fokus, tenaga yang dibutuhkan semakin ekstra, dan butuh waktu lama. Oleh karenanya, kesabaran dan ketenangan menjadi modal yang paling utama. Sehelai kain itu secara langsung atau tidak langsung akan membantu kita mengurangi gangguan-gangguan yang menyebabkan berkurangnya efisiensi dan optimalisasi.
Bayangkan jika syari’at sehelai kain itu tegak dibumi pertiwi yang amat kita cintai ini, dimana para wanita dengan sadar diri mengenakan sehelai kain syar’i. Tentu para wanita akan berpikir sejuta kali untuk terjun dalam bisnis penyewaan aurat. Para gadis belia tentu akan malu menggadaikan dirinya kepada mucikari. Sehelai kain itu tentu akan memberi konsekuensi bagi para penggunanya. Pola perilaku, ucapan, dan tutur katanya akan lebih terkendali dan tidak semaunya. Seorang wanita berjilbab syar’I tentu tidak akan mau tertawa terbahak-bahak didepan khalayak ramai, atau bertingkah genit dan manja dihadapan para pria yang bukan mahram-nya. Apalagi berjalan sambil berlenggak-lenggok, hal itu menjadi pantangan bagi dirinya. Sehelai kain itu akan menjadi kode etik yang terus melekat kuat di dalam jiwa para wanita.
Sehelai kain syar’i itu akan membantu bangsa ini memperbaiki kondisinya yang kini sedang terpuruk. Bangsa ini terpuruk dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam penerapan nilai-nilai moral dan etika. Padahal moral itulah yang menjadi pondasi suatu bangsa di dalam membangun peradabannya. Efisiensi waktu, disiplin kerja, konsentrasi pikiran, dan harta yang bermanfaat merupakan akumulasi ikhtiar yang akan membantu bangsa ini mengubah keadaannya. Sehelai kain itu merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan itu. Tegaknya sehelai kain memang tidak akan mengubah total keadaan, akan tetapi akan memperbaiki keadaan secara siginifikan. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk berubah dan memperbaiki keadaan kita.
والله أعلم بالصواب
Sumber :belajarislam.com
والله أعلم بالصواب





0 Response to "Sehelai Kain"